Thursday, 23 Apr 2026

Jualan di Shopee dan TikTok Shop Sekaligus? Ini Tantangan Operasional yang Jarang Dibahas

Berjualan di lebih dari satu platform terdengar seperti strategi yang sempurna. Berjualan di Shopee dan TikTok Shop sekaligus berarti memperluas eksposur produk, memperbanyak calon pembeli, dan memperbesar potensi omset yang berlipat. Menurut data, penggunaan Shopee diakses oleh 53,22% pengguna internet Indonesia, sementara TikTok Shop diakses oleh 27,37% pengguna internet Indonesia. Dua platform ini bersama-sama menjangkau lebih dari 80% pasar belanja online Indonesia.

Tapi ada sisi lain yang jarang dibicarakan yaitu adalah kerumitan operasional yang datang bersamaan. Ketika orderan masuk dari dua platform sekaligus, sistem yang tidak siap akan cepat kewalahan. Stok tiba-tiba habis di satu platform padahal baru saja diupdate. Tim packing harus bolak-balik cek dua dashboard berbeda. Pesanan terlewat karena notifikasi tenggelam. Dan di akhir bulan, rekonsiliasi data jadi mimpi buruk tersendiri.

Tantangan 1: Sinkronisasi Stok yang Bisa Berujung Overselling

Di 2024, e-commerce Asia Tenggara mencapai total GMV sebesar US$128,4 miliar atau tumbuh 12% setiap tahunnya. Melalui Shopee dan TikTok Shop bersama-sama menguasai lebih dari 63% pangsa pasar regional, kedua platform aktif melayani jutaan transaksi setiap harinya, sedangkan seller yang berjualan di keduanya menghadapi tantangan pertama yang paling kritis yaitu sinkronisasi stok secara real-time.

Bayangkan skenario ini, jika anda punya 50 unit stok produk A. Shopee menampilkan stok 50, TikTok Shop juga 50. Dalam satu jam, 30 order masuk dari Shopee dan 25 order masuk dari TikTok Shop. Total: 55 order untuk 50 unit stok. Maka, lima pembeli akan kecewa, dan anda akan mendapat komplain serta penilaian buruk. Masalah ini dikenal sebagai overselling dan terjadi karena stok di dua platform tidak saling terhubung secara real-time. Solusi manual (update stok secara berkala di kedua platform) hanya efektif jika volume ordermu masih kecil. Begitu orderan masuk dalam hitungan menit di dua tempat sekaligus, pembaruan manual sudah terlambat sebelum sempat dilakukan.

Hal yang dibutuhkan adalah sistem manajemen stok terpusat yang memperbarui angka stok di semua platform secara otomatis setiap kali ada order masuk baik dari Shopee maupun TikTok Shop. Inilah fungsi utama dari sistem WMS (Warehouse Management System) terintegrasi yang telah digunakan oleh fulfillment center professional.

Tantangan 2: Proses Packing yang Makin Kompleks dan Rawan Salah

Indonesia adalah pasar TikTok Shop terbesar secara global dengan lebih dari 6 juta seller dan 125 juta pengguna aktif bulanan yang berinteraksi dengan konten belanja. Di sisi lain, Shopee mencatat 10,9 miliar pesanan bruto sepanjang 2024 naik dari 8,2 miliar pesanan di tahun sebelumnya. Dengan volume transaksi sebesar ini mengalir di dua platform sekaligus, proses packing yang tidak terstruktur adalah bom waktu.

Shopee dan TikTok Shop memiliki standar pengemasan dan pelabelan yang berbeda. Resi Shopee dan TikTok Shop tidak bisa tertukar. SLA (Service Level Agreement) pengiriman keduanya juga berbeda ada yang wajib di-pickup dalam 1×24 jam, ada yang lebih fleksibel.

Ketika tim packing memproses order dari dua platform sekaligus tanpa sistem yang memisahkan antrian dengan jelas, risiko kesalahan meningkat drastis:

  • Salah pasang resi — resi Shopee ditempel di paket TikTok Shop, dan sebaliknya
  • Kemasan tertukar — paket yang seharusnya pakai kardus malah pakai pouch, atau sebaliknya jika ada ketentuan packaging berbeda per platform
  • Melewati deadline pickup — karena tidak ada pengingat otomatis per platform, satu channel bisa tertinggal dan berujung penalti keterlambatan

Makin tinggi volume order, makin besar probabilitas kesalahan ini terjadi jika prosesnya masih manual. Hal yang dibutuhkan adalah alur kerja packing yang terpisah per channel, dengan antrian order yang jelas, label otomatis yang sudah terpasang benar, dan reminder SLA yang berjalan sendiri.

Tantangan 3: Laporan Penjualan yang Terpencar di Dua Tempat

GMV e-commerce Indonesia melampaui US$75 miliar di 2024 dan diproyeksikan menembus US$100 miliar pada 2026, tumbuh hampir 19% per tahun. Di balik angka pertumbuhan yang impresif ini, banyak seller yang sebetulnya tidak tahu dengan tepat berapa keuntungan bersih mereka dikarenakan data penjualan yang tidak rapi.

Setiap akhir bulan atau bahkan setiap minggu anda perlu tahu berapa total penjualan? Produk mana yang paling laku? Platform mana yang lebih menguntungkan setelah dipotong biaya?

Masalahnya, Shopee dan TikTok Shop masing-masing punya dashboard laporan sendiri dengan format yang berbeda, periode laporan yang berbeda, dan cara menghitung fee yang berbeda pula. Untuk mendapatkan gambaran bisnis yang utuh, anda harus:

  1. Unduh laporan dari Shopee
  2. Unduh laporan dari TikTok Shop
  3. Gabungkan secara manual di spreadsheet
  4. Normalisasi format angka dan kategori yang tidak konsisten
  5. Baru bisa mulai menganalisis

Proses ini bisa memakan waktu berjam-jam setiap minggunya. Dan semakin besar bisnismu, semakin panjang waktu yang terbuang untuk pekerjaan administratif ini. Hal yang dibutuhkan adalah satu dashboard terpusat yang mengkonsolidasikan data penjualan dari semua platform dalam satu tampilan, dengan laporan yang bisa diakses kapan saja tanpa proses manual.

Tantangan 4: Manajemen Retur yang Berlipat Ganda Kerumitannya

Menurut laporan McKinsey, tingkat retur di e-commerce Asia Tenggara dapat mencapai 15–20%  lebih dari dua kali lipat rata-rata retur di semua kategori ritel. Artinya, hampir satu dari lima paket berpotensi kembali ke penjual. Ketika anda berjualan di dua platform sekaligus, angka ini berlaku di kedua channel dan cara penanganannya pun berbeda-beda.

Di satu platform saja, sudah melewati proses yang cukup panjang seperti mengecek kondisi barang, memutuskan apakah bisa dijual ulang, update stok, proses refund. Di dua platform sekaligus, semua itu berlipat ganda. Yang memperumit lagi adalah proses kebijakan retur Shopee dan TikTok Shop berbeda. Jangka waktu pengajuan retur, syarat kondisi barang, dan proses pengembalian dana masing-masing punya aturan tersendiri.

Selain itu, barang retur yang tidak langsung diproses kembali ke stok akan menyebabkan data stok tidak akurat memperparah masalah overselling yang sudah dibahas di poin pertama. Hal yang dibutuhkan adalah prosedur standar penanganan retur per platform yang didokumentasikan dengan jelas, serta sistem otomatis dalam memperbarui stok saat barang retur diterima dan lolos pengecekan kondisi.

Tantangan 5: Skalabilitas di Momen Peak Season

Semua tantangan di atas terasa manageable ketika volume order masih 50–100 per hari. Tapi bagaimana ketika tiba momen Harbolnas, 11.11, 12.12, atau Lebaran? Ramadan dan Lebaran tetap menjadi periode penjualan puncak terbesar di Indonesia, dengan kampanye online di Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop secara konsisten memecahkan rekor traffic dan konversi. Lonjakan bisa mencapai 5–10 kali lipat volume normal dalam waktu singkat.

Bisnis yang mengelola operasional sendiri dengan tim kecil hampir selalu kewalahan di momen ini. Bukan karena mereka tidak bekerja keras, tapi karena infrastruktur operasionalnya tidak dirancang untuk lonjakan tiba-tiba.

Beberapa dampak yang sering terjadi saat peak season tanpa kesiapan operasional yang memadai:

  • Penumpukan antrian packing yang berhari-hari tidak terselesaikan
  • Keterlambatan pengiriman massal yang memicu gelombang komplain dari pembeli di dua platform sekaligus
  • Penurunan rating toko yang susah dipulihkan setelah event selesai
  • Stok habis lebih cepat dari perkiraan karena sistem prediksi tidak ada

Solusi: Infrastruktur Operasional yang Siap Sebelum Masalah Datang

Semua tantangan yang diuraikan di atas bukan alasan untuk tidak ekspansi ke multi-platform. Sebaliknya, ini adalah checklist kesiapan yang perlu anda selesaikan sebelum atau bersamaan dengan ekspansi tersebut.

Ada tiga pendekatan yang bisa diambil:

1. Membangun sendiri sistem terintegrasi investasi besar di awal untuk software manajemen order multi-channel, pelatihan tim, dan infrastruktur gudang. Cocok untuk bisnis yang sudah sangat besar dan punya tim IT internal.

2. Gunakan middleware/software third party platform yang memungkinkan seller menghubungkan lebih dari satu e-commerce ke dalam satu dashboard terpusat untuk menyinkronkan katalog produk, memproses pemesanan, hingga pengiriman barang.

3. Serahkan ke fulfillment center profesional ini opsi yang paling scalable untuk bisnis yang sedang dalam fase pertumbuhan. Fulfillment center seperti Flexofast menangani seluruh rantai operasional: penyimpanan stok, sinkronisasi dengan Shopee dan TikTok Shop via integrasi sistem, proses pick & pack, pengiriman, hingga manajemen retur dalam satu ekosistem terintegrasi.

Dengan model ini, anda bisa fokus sepenuhnya pada hal yang paling penting yaitu mengembangkan produk, membangun brand, dan memperluas jangkauan pasar tanpa harus menghabiskan energi untuk masalah operasional yang bisa didelegasikan.

Siap Ekspansi Multi-Platform dengan Operasional yang Solid

Jualan di Shopee dan TikTok Shop sekaligus adalah langkah strategis yang tepat asalkan fondasi operasionalnya sudah kuat. Jangan biarkan potensi revenue yang besar terkikis oleh inefisiensi internal yang seharusnya bisa diatasi sejak awal.

Flexofast hadir sebagai partner logistik dan fulfillment yang siap mendukung pertumbuhan bisnis multi-channel anda dengan sistem terintegrasi, coverage di Tangerang, Surabaya, dan Balikpapan, serta tim yang berpengalaman menangani operasional e-commerce skala besar.

Konsultasikan kebutuhan operasional bisnis anda dengan tim Flexofast →

error: Content is protected !!